Pacaran Islami ?

Bukankah orang membutuhkan tahap penjajakan sebelum pernikahan ? karena bagaiamanapun juga, kegagalan saat pacaran jauh lebih ringan daripada kegagalan setelah menikah. Marilah kita cermati masalah ini. Semoga Allah mencurahkan kebenaran_Nya kepada kita semua

Cinta, fitrah anak adam

Manusia diciptakan oleh Allah ta’ala dengan membawa fitrah (insting) untuk mencintai lawan jenisnya, sebagaimana firmannya :

Dijadikan indah pada ( pandangan ) manusia kecintaan kepada apa-apa yang ia ingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak , harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenagan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (surga). (QS. Ali-Imran:14)

Berkata Imam Qurtubi:”Allah ta’ala memulai dengan wanita karena kebanyakan manusia menginginkannnya, juga mereka merupakan jerat-jerat setan yang menjadi fitnah bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam

“ Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita (Hr.Bukhari:5696,Muslim 2740, Tirmidzi 2780, , Ibnu Majah 3998 )

Oleh karena itu, wanita adalah fitnah terbesar dibanding yang lainnya. (Tafsir Qurtubi 2/20). Rasulullah Shallallhu alaihi wassalam, sebagai manusia tak luput dari rasa cinta terhadap wanita.

Dari anas bin malik ra. Berkata: Rasullullah SAW bersabda : “ disenangkan kepadaku dari urusan dunia wewangian dan wanita.” ( Hr. Ahmad 3/285 , Nasa’I 7/61, Baihaqi 7/78 dan Abu Ya’la 6/199 dengan sanad hasan. Lihat Al-Misykah : 5261 ).

Karena cinta merupakan fitrah manusia, maka Allah Ta’ala menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan nikmat yang dijanjikan bagi orang-orang beriman di surga dengan bidadarinya.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda : “ Dunia adalah perhiasan , dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang sholihah. ( HR. Muslim 10/56, Nasa’i 6/69, Ibnu Majah 1/571, Ahmad 2/166, Baihaqi 7/80 )

Allah SWT Berfirman :

Didalam syurga-syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik ( QS. Ar-Rahman : 70 )

Namun, islam sebagai agama paripurna para rasul, tidak membiarkan fitnah itu mengembara tanpa batas, islam telah mengatur dengan tegas bagaimana menyalurkan cinta, juga bagaiaman batas pergaulan antara dua insan lawan jenis sebelum nikah, agar semunya tetap berada dalam koridor etika dan norma yang sesuai dengan syari’at.

  • Ø Etika pegaulan lawan jenis dalam islam

Etika tersebut antara lain :

1. Menundukan pandangan terhadap lawan jenis

Allah memerintahkan kaum laki-laki untuk menyalurkan pandangannya, sebagaimana firmannya:

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : “ Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya “. ( QS. An-Nur :30 )

Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada wanita beriman, Allah berfirman :

Dan katakanlah kepada wanita yang beriman “ Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”. (QS. An-Nur :31 )

2. Menutup Aurat

Allah berfirman :

Dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padannya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. (QS. An-Nur :31 )

Juga firmannya :

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri oranng mu’min : Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” , yang demikian itu supaya mereka lebig mudah untuk di kenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang. (QS. Al-Ahzab : 59 )

Perintah menutup aurat ini juga berlaku bagi sesama jenis, sebagaimana sebuah hadits :

Dari Abu Sa’id Al-Khudri R.A berkata : “ Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda “ janganlah seorang laki-laki memandang aurat laki-laki, begitu juga wanita jangan melihat aurat wanita “. ( Hr. Muslim 1/641 , Abu Dawud 4018, Tirmidzi 2793, Ibnu Majah 661 )

3. Adanya pembatas antara laki-laki dengan wanita

Kalau ada sebuah keperluan terhadap lawan jenis, harus disampaikan dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firmannya :

Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita) maka mintalah dari balik hijab ( QS. Al-Ahzab :53 )

4. Tidak berdua-duan dengan lawan jenis

Dari Ibnu Abbas R.a berkata: “ Saya mendengar Rasulullah Shallallhu alaihi wassalam bersabda :” Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahramnya.” (HR.Bukhori 9/330, Muslim : 1341)

Dari jabir bin samurah berkata : Rasulullah Shallallhu alaihi wassalam bersabda :” Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan seorang wanita, karena setan yang menjadi ketiganya.” ( HR. Ahmad 1/ 18, Tirmidzi 3/374 dengan sanad yang shahih , lihat takrij Misykah 3188)

5. Tidak mendayukan ucapan

Seorang wanita dilarang mendayukan ucapan saat berbicara kepada selain suami. Firmannya :

Hai istri-istri Nabi, kamu tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. (Qs. Al-Ahzab :32 )

Berkata Ibnu Katsir :” ini beberapa etika yang diperintahkan oleh Allah kepada para istri Rasulullah serta para wanita mu’minah lainnya, yaitu hendaklah kalau dia berbicara dengan orang lain tanpa suara yang merdu, dalam artian jaganlah seorang wanita berbicara dengan orang lain. Sebagaimana dia berbicara dengan suaminya”. ( Tafsir Ibnu Katsir 3/530)

6. Tidak menyentuh lawan jenis

Dari Ma’qil bin Yasar R.A berkata: Rasulullah Shallallahu alahi wassalam bersabda :” seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (Hr. Thabrani dalam Mu’jam Kabir 20/174/386 dengan sanad yang hasan, lihat Ash-Shohihah 1/447/226)

Berkata syaikh Al-Albani :” Dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya “.(Ash-Shohihah 1/448)

Dari Aisyah berkata:” Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat”.( Hr.Bukhari 4891 )

Inilah sebagian etika pergaulan laki-laki dengan wanita selain maharam , yang mana apabila seseorang melanggar semuanya atau sebagian saja akan menjadi bagian dosa zina baginya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Dari Abu Hurairah R.A Rasulullallah S.A.W bersabda :” Sesunggunya Allah menetapkan kepada anak Adam bagian dari Zina, yang pasti akan menemuinya, zina mata dengan memandang, zina tulisan dengan berbicara , sedang jiwa berkeinginan serta berangan-angan, lalu farji yang akan mebenarkan atau mendustakan semuanya.”(Hr. Bukhari 4/170, Muslim : 8/52, Abu Dawud 2152)

Padahal Allah SWT melarang perbuatan zina dan segala sesuatu yang mendekati perzinaan ( lihat Hirosatul Fadhilah Oleh Syaikh Bakr Abu Zaid hal : 94-98 ) sebagaimana firmannya :

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk ( QS. Al-Isra : 32)

  • Ø Hukum pacaran

Setelah memperlihatkan ayat dan hadit di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa pacaran itu adalah haram, karena beberapa sebab berikut :

1. orang yang sedang pacaran tidak mungkin menundukan pandangannya terhadap kekasihnya.

2. Orang yang sedang pacaran tidak akan bisa menjaga hijabnya

3. Orang yang sedang pacaran biasanya sering berdua-duaan dengan kekasihnya, baik di dalam maupun di luar rumah

4. Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya.

5. Pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dengan wanita, meskipun itu hanya bisa jabat tangan.

6. Orang yang sedang pacaran, bisa di pastikan selalu membanyangkan orang yang di cintai.

  • Ø Fatwa-fatwa ulama seputar pacaran

1. Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin di tanya tentang hubugan cinta sebelum menikah ( pacaran) ?

Jawab Beliau:

Jika hubungan itu sebelum akad nikah, baik sudah lamaran ataupun belum, maka hukumnya haram, karena tidak boleh bagi seseorang untuk bersenang-senang dengan wanita asing ( bukan mahram ) baik lewat ucapan, memandang ataupun berdua-duaan. Sebagaimana telah tsabit dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda “ janganlah seseorang laki-laki berdua-duaan dengan seseoran wanita kecuali bersama mahramnya, dan janganlah seorang wanita berpergian kecuali bersama maharamnya” ( Fatawa Islamiyah Kumpulan Muhammad Al Musnid 3/80)

2. Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Jibrin ditanya: “Kalau ada seseorang laki yang berkorespondensi dengan seoran wanita yang bukan mahram, yang pada akhirnya mereka saling mencintai, apakah perbuatan ini haram ?

Jawab Beliau :

Perbuatan itu tidak diperbolehkan, karena bisa menimbulkan syahwat diantara keduanya, serta mendorongnya untuk bertemu dan berhubungan, yang mana korespondensi semacam itu banyak menimbulkan fitnah dan menanamkan dalam hati seseorang pada perbuatan keji, maka saya nasehatkan kepada setiap orang yang menginginkan kebaikan bagi dirinya untuk menghindari surat-suratan, pembicaraan lewat telepon serta perbuatan semacamnya demi menjaga agama dan kehormatannya.

3. Syaikh Jibrin juga ditanya : Apa hukumnya kalau ada seseorang pemuda yang belum menikah menelpon gadis yang belum menikah ?

Jawab Beliau :

Tidak boleh berbicara dengan wanita asing (bukan mahram) dengan pembimbicaraan yang bisa menimbulkan syahwat, seperti rayuan, mendayukan suara baik lewat telepon maupun lainnya. Sebagaimana Firman Allah SWT” Dan janganlah kalian melebutkan suara, sehingga akan berkeinginan orang-orang yang hatinya terdapat penyakit. (QS. Al-Ahzab:32) adapun kalau pembicaraan itu untuk sebuah keperluan, maka hal itu tidak mengapa apabila selamat dari fitnah, akan tetapi hanya sebatas keperluan ( Fatawa Islamiyah 3/97)

  • Ø Syubhat dan Jawabannya

Sebenarnya, keharam pacaran lebih jelas daripada matahari di siang bolong. Namun begitu masih ada yang berusaha menolaknya walaupun dengan dalil yang sangat rapuh. Diantara Syubhat itu adalah:

1. Tidak bisa di pukul rata bahwa pacaran itu haram, karena bisa saja pacaran yang islami, tanpa melanggar syariat.

Jawab:

Istilah “ Pacaran Islami “ itu Cuma ada dalam hanyalan, dan tidak pernah ada wujudnya. Karena anggaplah bisa menghindari Khalwat, menyentuh serta menutup aurat, tapi tetap tidak bisa menghindari dari saling memandang. Atau paling tidak membanyangkan dan memikirkan kekasihnya. Yang mana hal itu sudah cukup untuk mengharamkan pacaran.

2. Orang sebelum memasuki dunia pernikahan, butuh untuk mengenal dahulu calon pasangan hidupnya, baik sisi fisik maupun karakter, yang mana hal itu tidak akan bisa dilakukan tanpa pacaran, karena bagaimanapun juga kegagalan sebelum menikah akan jauh lebih ringan daripada kalau terjadi setelah menikah ?

Jawab :

Memang mengenal fisik dan karakter calon istri maupun suami merupan suatu hal yang dibutuhkan orang sebelum memasuki biduk pernikahan, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari, juga tidak terkesan membeli kucing dalam karung. Namun tujuan ini tidak bisa menghalalkan sesuatu yang haram.

Ditambah lagi bahwa orang yang jatuh cinta akan berusaha menanyakan segala yang baik dengan menutupi kekurangannya di hadapan kekasihnya, sehingga akan melihat semua yang dilakukannya adalah kebaikan tanpa cacat( Lihat Faidhul Qodir oleh Imam Al Munawi 3/154)

Lalu bagaimana kita mengenal fisik dan karakter calon istri dan suami tanpa melanggar syari’at ? insya Allah kita bahas pada edisi berikutnya. Wallahu A’lam

  • Ø

Ø

Upaya mencari jodoh ideal ?

Oleh : Ahmad Haris

Pacaran, setiap kali kita mendengarnya akan terlitas dibenak kita sepasang anak manusia yang tengah dimabuk cinta dan dilanda asmara , saling mengungkapkan rasa sayang serta rindu, untuk akhirnya memasuki sebuah biduk pernikahan. Lalu kenapa harus dipermasalahkan ? bukankah cinta itu fitrah setiap anak adam ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: